Tags

Semalam saya bahagia karena bisa bertemu dengan orang yang saya sayang dan menambah inspirasi saya untuk menulis malam ini. Eh iya, saya udah 2 hari melihat jam 18.18 yang berarti jodoh, kemarin ketika bersama orang yang saya sayang, saya melihat jam 18.18, sign kalo dia jodoh saya 😀 *aminnn aja deh yah. Malam setelah menyelesaikan segala aktivitas, saya membaca buku Twivortiare karya Ika Natassa, kenangan saya kembali pada sebuah malam yang membuat saya sedih, ketika sebuah bbm masuk ke smartphone saya yang berisi kalimat perpisahan dari orang yang sayang. tepat pada 18 Februari 2012, sesuai dengan bagian dalam novel Twivortaire tersebut.

Bagian yang membuat sedih dan membangkitkan emosi kesedihan saya adalah ketika Ika Natassa menulis tentang Rabbit Hole pada halaman 342. Cerita Rabbit Hole sendiri adalah tentang pasangan suami istri yang mengalami kehancuran karena anaknya meninggal tertabrak mobil. Mereka tidak hanya kehilangan anaknya tapi juga hubungan percintaan keduanya. Sang istri yang diperankan Nicole Kidman begitu emosi dan merasakan kehilangan yang amat parah. Sang suami ( Aaron Eckhart ) berusaha untuk tetap sabar menghadapi kehilangan  anaknya dan perasaan depresi sang istri namun, kesabaran sang suami terkadang tidak tertahankan hingga akhirnya berujung konflik diantara keduanya.

Saya ingat pada saat itu pukul 2 pagi, saya menonton Rabbit Hole dan saya menitikan air mata karena cerita yang begitu menyesakan. Rasa kehilangan dengan kekasih saya dan film Rabbit Hole plus sebuah akun twitter yang menulis kalimat ini ” kita tidak kehilangan apapun karena kita tidak pernah memiliki “ tapi manusia adalah makhluk yang posesif, serakah, jahat seperti kata teori Leviatan. Karena itu manusia akan cenderung memiliki rasa memiliki, dan ketika memiliki itu mendadak hilang maka manusia akan sangat bersedih dan mengalami depresi pada hatinya.

Banyak orang yang berkata kepada saya untuk ikhlas, moving on, melupakan orang yang saya sayang, namun, saya adalah seperti yang leviatan bilang. Dalam hidup ini siapa sih yang rela kehilangan orang yang kita sayang, saya rasa tidak ada. kalau ia tidak merasa kehilangan maka artinya dia tidak menyayangi hal tersebut. Film Rabbit Hole memang film yang luar biasa mengaduk emosi saya pada saat itu, perasaan kehilangan menjadi tema utama film ini. Rabbit Hole juga mengajarkan bagaimana kita memaknai sebuah kehilangan, yaitu dengan memaafkan. pada akhirnya semua hal bisa terselesaikan dengan maaf, sang penabrak meminta maaf kepada sang ibu yang kehilangan anaknya tersebut dan kemudian dengan penuh lapang dada akhirnya memaafkan.

Saya teringat suatu hal yang luar biasa dalam film invictus, film tentang Nelson Mandela yang berusaha menyatukan negara yang penuh sifat membenci antar warna kulit dengan memenangkan olah raga yang populer saat itu yaitu football. Film ini kalau kita melihat dari sisi lain adalah bagaimana Nelson Mandela tidak menghukum orang – orang yang telah menghina hingga menjebloskannya ke penjara, Nelson Mandela merangkul mereka dan memaafkan mereka dan membangun ulang fondasi negaranya yang hancur akibat rasisme dimulai dengan memaafkan. Karena itu saya katakan, maaf adalah hal yang tersulit di dunia. karena kita harus menyingkirkan ego kita.

Kembali lagi ke Rabbit Hole, Pada akhirnya semua hal di dunia ini akan selesai, begitupun rasa sedih, depresi dan datanglah hari yang baru dan penuh kebahagiaan. saya percaya bahwa semua hal di dunia ini berujung pada kebahagiaan namun kebahagiaan tidak dibangun dengan mudah, ia harus melalui sebuah putaran emosi yang bernama kesedihan. 😀 Bersabarlah, dan tetap percaya akan kebahagiaan adalah hal utama menuju kebahagiaan. 😀

Saya katakan dan saya teriakan yah 😀 : “maafkanlah semua orang yang telah menyakiti kalian semua, bukan agar kita menjadi bijaksana karenanya tapi agar perasaan kita menjadi lebih baik”. Dengan memaafkan, hati menjadi lapang dan hari yang cerah telah berhasil kita ciptakan sendiri. Menjelang hari raya lebaran dengan tradisi saling memaafkannya, maafkanlah dengan tidak hanya dengan berucap maaf kepada orang lain, maafkanlah juga diri kita sendiri karena isi hati ini adalah kita sendiri yang ciptakan. hati ini adalah satu – satunya pengatur emosi kita, jangan isi hati kita dengan penuh dendam dan amarah. Tinggalkan dendam dan semua kenangan buruk di belakang, mulailah hari yang baru dengan hati yang baru yang penuh rasa maaf. semangat yah teman – teman, saya tahu ini tidak mudah, bahkan sayapun masih belajar agar bisa menjadi sehebat Nelson Mandela yang bisa membuka hatinya untuk memaafkan.

~ ditulis sambil baca buku Your Journey To Be The #ultimate u – Rene Suhardono