Tags

Semua orang di dunia ini memiliki hobi, ada yang menyukai nonton film, baca buku, surfing di internet, mendengarkan musik, jalan – jalan bahkan belanja telah menjadi hobi semua orang. Kita seringkali tidak sadar kalau hobi yang kita miliki ini ternyata memiliki nilai lebih dari sekedar iseng aja. hobi yah cuman itu, iseng doang kan awalnya. Namun saya ingin memberikan nilai lebih ke hobi, yaitu hobi yang ternyata menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk yang akan menimpa kita *serem abis.

Hobi ternyata apabila ditekuni bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai lebih, seperti @trinitytraveler , penulis buku travelove dan naked traveler ini hobinya jalan – jalan, gak cuman berkeliling Indonesia tapi juga ke dunia. Dari hobi itu kemudian dia menulis buku yang saya sebutkan di atas. Bukunya laris di pasaran. saya-pun terinspirasi buat jalan – jalan berkat Trinity. Tahukah anda dengan Julia Child? Julia Child adalah salah satu pengkreasi makanan terkenal di Perancis. Hobi dia adalah memasak, dan berkat memasak akhirnya dia menerbitkan sebuah buku berjudul “mastering the art of of french cooking”. Bersama tiga orang teman – temannya, Julia Child menulis buku yang berisi aneka resep makanan Perancis. Buku tersebut mengangkat nama Julia Child sebagai ahli masakan Perancis. Sebenarnya, Julia Child adalah seorang pekerja iklan dan copywriter karena ia lulus kuliah komunikasi tapi hobilah yang mengangkatnya jadi terkenal bukan pekerjaannya. [ Note: bisa menonton film Julie & Julia kalo ingin tahu tentang Julia Child ]. Trinity dan Julia Child adalah dua orang yang sukses berkat hobi lalu menjadi populer di masyarakat. Lihat persamaan diantara keduanya yaitu sebuah buku.

Buku tidak hanya bisa pencerahan akan masa depan kita namun buku juga bisa menyelamatkan hidup seseorang. Salah satu teman saya pernah mengagetkan saya dengan teriak gini saat di Food Court Senayan City, GILA NIH mbim, Buku ini bikin gw gak galau lagi, *sambil nunjukin buku La Tahzan yang saya pinjemin. Temen saya ini baru aja gak lulus ujian akuntansi dan harus ngulang lagi. Temen saya ini galau karena harga ujian dan kuliahnya yang mahal, disamping itu keluarganya sedang kesulitan uang. Satu kisah lagi, ada seorang penulis namanya Asma Nadia pernah menulis kalau ada penggemarnya bilang hampir bunuh diri, untung dia sempat membaca karya Asma Nadia ini. Hebat yah, peran buku ini ternyata bisa bermacam – macam efeknya kepada setiap orang.

Bagaimana dengan saya? banyak sekali cerita tentang buku dan kisah hidup saya. saya akan bercerita bagaimana buku menyelamatkan hidup saat kritis.

Suatu hari, saya akan ujian Politik Internasional, hari itu adalah hari senin dan saat itu UTS ( Ujian Tengah Semester ). Saya menaiki sepeda motor bersama bude ( kakak tertua papah )saya menuju pulo gadung, saat itu papa tidak bisa mengantar ke kampus jadinya dianterin bude ke pulo gadung untuk naik busway. Sebelum berangkat, saya belajar hingga pukul 2 malam dan saya harus berangkat pada pukul 4 pagi dari bekasi. *nasib warga sub-urban. Saya yang hanya tertidur dua jam saja saat itu, memasukan semua peralatan ujian seperti buku dan pulpen, *itu buku tebal – tebal sekali bisa memukul maling hingga pingsan dan peralatan tulis. pamitan sama mamah saya, lalu setelah itu saya berangkat deh, ditengah perjalanan yang kira – kira lima kilometer sebelum terminal pulo gadung, saya terjatuh ( akibat taksi di depan saya mendadak berhenti ) 😦 mengakibatkan kaki kiri luka , permukaan tangan kiri saya tergerus aspal jalanan. rasanya sakit sekali. Bude saya juga mengalami luka di kaki kirinya. Ketika saya terjatuh, saya merasa seperti ada yang menahan saya dari jatuh yang parah.

Setelah ditolong oleh warga sekitar, saya dapat berdiri kembali dan melanjutkan perjalanan menuju busway. Di hati saya lebih besar ujiannya daripada rasa sakit tangan kiri saya. aha! perilaku saya ini jangan ditiru yah, kesehatan nomor satu. dengan hanya dibalut saputangan warna putih saya menutup luka di tangan kiri. bahkan ketika naik busway saya pusing, mungkin karena kehilangan darah yang banyak di tangan kiri. Orang – orang di busway ngeliatin saya, pasti disangka abis bunuh orang nih! dengan darah tangan kiri *groaaaarrrrrr . Sampai di kampus pukul 7, temen – temen saya prihatin dan menyuruh ke klinik di kampus. mana sialnya pake nakut -nakutin suruh amputasi segala. *paraaaahhhh. Ujianpun dilaksanakan dengan menahan rasa sakit di tangan kiri, selesai ujian langsung makan sarapan *nggak ke klinik karena takut di amputasi! Setelah makan, saya membuka tas, di dalam tas saya melihat buku – buku hardcover saya. Saat itu saya sadar buku – buku hardcover inilah yang menahan saya dari kecelakaan yang parah. Terima Kasih pada buku Politics among Nations – Morgenthau, Angels & Demon – Dan Brown dan buku pengantar studi kawasan. kalian menyelamatkan saya saat itu. *terima kasih ama Tuhan juga dong bim. iya iya. Makasih ya Allah SWT.

Sejak saat itulah, saya menghargai hobi saya ini. Tidak hanya sekedar hobi tapi sudah menjadi cinta. Meskipun saya sering membagi diri dengan menonton film, tapi buku selalu ada di hati saya. *maaf yah buku. Makanya saya kesal kalau ada buku disia – siain atau dibakar. *grrrrrrrr. Saya membayangkan kalau saya tidak suka membaca buku mungkin tidak akan ada Dan Brown dalam buku dalam tas yang menyelamatkan saya dan mungkin saya mengalami sakit lebih dari yang saya rasakan saat itu. Kalau kalian melihat bekas luka di tangan kiri saya, yes, itulah luka yang saya dapat ketika jatuh. Tapi kenangan dalam luka itu adalah kumpulan buku yang menyelamatkan hidup saya.

Saat ini, buku juga mengisi dan menenenangkan saya dari kegalauan beberapa waktu belakangan. Buku apa itu? Al-Qur’an. Saya tidak menyangka hadiah ulang tahun ke 13 saya dari mamah menjadi penenang saya saat ini. Ketika saya tidak tenang saya akan membaca Al – Qur’an. Mungkin karena inilah Allah SWT menganugerahkan buku kali yah kepada umatnya selain karena buku abadi hingga saat ini dan menjadi media tak tergantikan tapi juga untuk menyelamatkan umatnya. horeee dan saya adalah salah satu yang merasakan anugerah Allah SWT. muluk sih tapi memang begitulah keadaannya.

Kalau kita melhat lebih ke dalam, ada nilai yang bisa kita ambil untuk kehidupan. hal tersebut adalah:

Jangan meremehkan apapun yang kita kerjakan karena mungkin hal tersebut dapat menyelamatkan orang lain.

Mungkin penulis – penulis yang bukunya jadi bantalan badan saya ketika jatuh tidak mengira kalau bukunya tidak hanya menambah ilmu tapi menyelamatkan hidup seseorang. Hobi membaca dan menulis buku mungkin adalah keisengan semata untuk kita semua, tapi ingatlah, berdasarkan kisah saya diatas, keisengan itu ternyata menyelamatkan hidup seseorang.

~ ditulis ketika menonton film Eat Pray Love dengan ncit di kamar saya yang dingin.

Tulisan ini untuk:  semua buku yang pernah saya baca saat ini dan yang akan saya baca di masa depan, saya tiada berarti tanpa kalian, terima kasih dari hati saya terdalam.

Advertisements