Tags

Sungguh miris membaca berita buku yang dibakar karena buku selalu menyelamatkan saya setiap kali saya sedang tertatih. ada perasaan nggak tega melihat kertas – kertas putih – kuning berubah menjadi hitam legam bekas pembakaran. Sungguh diluar akal sehat saya mengapa ada orang yang tega membakar buku. Mungkin bisa saya katakan anti kepintaran dan takut ada pemikiran baru di dunia ini yang “menghajar” nalar dan kepercayaannya.

Buku yang berjudul 5 kota paling berpengaruh di dunia dibakar habis oleh gramedia, dihadapan publik ( disaksikan para awak media ). Hal ini karena adanya protes keras dari masyarakat ( we could say FPI – Front Pembela Islam ) yang keberatan kalimat dalam buku tersebut yang menghina Nabi Muhammad SAW. Keberatan ini berujung adanya sweeping yang dilakukan oleh FPI di toko buku gramedia.

Pendapat saya dalam kasus ini, sungguh Gramedia pengecut sekali, kalah oleh tekanan sebuah ormas seperti FPI. Padahal Gramedia adalah perusahaan yang besar. Penulis buku yang terbitin bukunya oleh gramedia tersebut pasti shock berat karena bukunya dibakar, *puk puk puk pak Douglas Wilson selaku pengarang buku tersebut. bagaimanapun buku dan penulis seperti ayah dan anak, siapa sih yang ingin anaknya dibakar begitu. moga Gramedia udah meminta restu baik – baik sama pak Dauglas Wilson ini.

Dejavu! saya kembali lagi ketika SCTV ( Stasiun TV ) diprotes keras oleh FPI karena film tanda tanya, seketika SCTV tidak berani menayangkannya. Kita sudah kalah total sama ormas ini. kekalahan menjadi 2 – 0 ketika Lady Gaga sukses ditakut – takutin agar tidak konser disini, berbekal argumentasi Lady Gaga penyembah setan dll whateva-lah dan membuat Lady Gaga gak jadi konser disini. Polisi pun tidak kuasa membendung kekuatas ormas ini. Negara besar Indonesia tunduk sama ormas bernama FPI. WOW!!!!! Remeh banget kalahnya sama ormas.

Kenapa harus dibakar sih buku – buku itu, seolah – olah memberikan image kalo “nih bukunya udah gw bakar yah selesai perkara yah”, image yang ingin diperlihatkan gramedia kepada FPI. Image yang membuat saya berang, karena gramedia harusnya jadi simbol intelektualitas negara ini karena gramedia jualan buku, harusnya gramedia bawa aja kasus ini ke ranah pengadilan dan meskipun nanti di sana kalah kan sudah memberikan contoh kalo gramedia itu tidak tunduk pada tekanan apapun termasuk FPI, juga memberikan kita contoh baik dalam berjuang. Biarkan hukum yang menilai disini dan buku tidak menjadi korban dengan cara dibakar. Toh sejak 2010, sudah diatur oleh Mahkamah Konstitusi yang mengatakan setiap sengketa isi buku harus dibawa ke pengadilan.

Bim kan ada pasal penistaan terhadap agama? oh pastinya, sebagai seorang muslim, saya gak terima Nabi Muhammad SAW dihina seperti dalam buku itu, tapi itu tidak membuat buku tersebut dibakar. Kan bisa dihapus bagian kontroversinya, di-edit, ditarik dari toko buku lalu disimpan digudang. kenapa saya benci sekali buku di bakar, karena sejak dulu bakar – bakar buku udah jadi tradisi penguasa yang ketakutan seperti perpustakaan iskandariah yang dibakar habis oleh Julius Caesar ketika dia menginvasi Mesir. Menghancurkan sejarah sekali kalau buku itu dibakar habis, pengetahuan menjadi lenyap dan kisah masa lalu yang ingin diketahui oleh masa depan menjadi hilang. seketika peradaban yang penuh tulisan kejayaan menjadi hilang.

Saya katakan ini adalah masalah kedewasaan dalam berpikir. Apabila pendapat orang salah, baiknya kita beritahu kesalahan tersebut. bukan dengan marah – marah hingga memberangus pikiran orang tersebut. Kedewasaan ini dapat ditiru dengan contoh kasus Da Vinci Code – Dan Brown, isi buku tersebut benar – benar membelokan banyak fakta agama kristen, ketika membacanya pun saya katakan WOW abis. Gereja Vatikan marah besar akan buku ini, tapi apakah Vatikan membakar buku Da Vinci Code, nggak tuh, mereka malah membuat tandingan dengan tulisan – tulisan untuk melawan pembelokan fakta di Da Vinci Code. Sehat sekali debat ketika Da Vinci Code terbit. *Iya gw tau, dulu kan Vatikan juga pernah membakar Copernicus bim yang bilang bumi itu bulat. Well, mungkin Vatikan udah berubah kali, udah tobat gak bakar – bakar lagi. Tapi terakhir mereka juga sikapnya sama ketika, buku seks biarawati di amerika serikat beredar. hahaha, Vatikan cuman marah aja gak ampe bakar.

Tesis vs anti tesis, pemikiran vs pemikiran, otak vs otak. Kita akan menjadi semakin pinter apabila ada pemikiran yang berbeda dengan kita dan kita terima lalu kita berargumen kembali sehingga menciptakan pemahaman baru di diri kita. ada dua kalimat yang saya coba ambil untuk kasus bakar buku ini yaitu:

 saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tapi saya akan membela hak berpendapat Anda sampai mati – Voltaire

Kalimat Voltaire inilah yang harus dipahami, bahwa ada kebebasan berpendapat dari seseorang yang harus kita terima meskipun kita itu melawan pemahaman kita. ini kan yang kita perjuangkan selama reformasi 1998 untuk kebebebasan berpendapat dari penguasa yang tirani. kenapa kita kembali lagi ke masa itu?. dalam kasus ini, bisa aja sih Gramedia “hire” penulis tandingan untuk melawan penghinaan ini yang disebut anti – tesis untuk meluruskan kesalahan sejarah dalam buku ini. Toh image gramedia akan bagus karena bener – bener intelektual caranya dan so, pasti lebih elegan kan daripada bakar buku.

Idea is bulletproof – V For Vendetta

Nah, kalimat ini berada dalam film V For Vendetta, film yang menceritakan perjuangan seseorang melawan kediktatoran penguasa. intinya, ide itu mau dibakar, mau ditembak, mau dikubur tidak akan bisa. Makanya setiap ide harus dilawan dengan ide lainnya. Karena hanya dengan ide, kita bisa mengalahkan semuanya. Toh ide yang bulletproof ini terbukti juga meskipun bukunya udah dibakar, tapi ternyata udah ada yang beli 400-an eksemplar. bakalan menyebar deh tuh buku kemana – kemana. see, another win for idea. Bahwa ide tidak akan bisa berhenti meskipun udah dibakar.

Akhir kalimat saya akan katakan untuk selalu elegan dalam menyikapi hidup. Ketika ada hal yang tidak bisa kita terima, kita harus menjawab dengan kedewasaan dalam berpikir. Tidak serta merta kita memberangus ide yang masuk ke pikiran kita. telaah dengan teliti. Ketika kita tidak sependapat maka utarakan dengan halus dan elegan. karena hal yang baik selalu dikatakan dengan cara baik – baik. Tunjukan kalau kita adalah manusia yang beradab, tidak hanya kepada manusia juga kepada buku.

~ ditulis dengan perut yang lapar, pengen martabak telur. 😦

Referensi terkait 

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/06/15/121341/MK-Tindakan-FPI-Bakar-Buku-Melanggar-Konstitusi

http://metro.vivanews.com/news/read/323633-fpi-laporkan-penerbit-buku-5-kota-berpengaruh

http://www.catholic.org/international/international_story.php?id=19756

http://www.catholic.com/documents/cracking-the-da-vinci-code

Advertisements